Tahun 1997 formasi baru SLANK diresmikan. Bimbim (Drum), Kaka
(Vokal), Ivanka (Bassis), Abdee Negara (Gitar), dan Ridho Hafiedz
(Gitar). Di luar dugaan, formasi ini sedikit banyak mampu menghapus
bayang-bayang Bongky, Pay, dan Indra Q. Minimal, SLANK dianggap bisa
menemukan bentuk baru tanpa kehilangan ciri khas.
Album baru
bertitel ”Tujuh” dilepas dengan mengandalkan single ”Balikin”. Lagu
yang menandakan bahwa Bimbim, Kaka, dan Ivanka ingin rehat dan sehat
dari ketergantungan narkoba. Ditambah dengan Abdee dan Ridho yang
benar-benar bersih dari narkoba semakin menguatkan niat mereka. Album
tersebut terjual satu juta copy hanya dalam hitungan minggu. Di tahun
ini pulalah Bunda Iffet selaku Ibunda dari Bimbim mengambil alih
jabatan menjadi Manajer Slank.
Setahun kemudian SLANK kembali
melepas album baru, ”Mata Hati Reformasi”, dengan hits single
“Ketinggalan Jaman”. Kali ini SLANK tampil jauh lebih garang dari album
sebelumnya. Kegusaran anak muda melihat reformasi yang makin hari
makin tidak jelas, menjadi tema sentral. Dan dimulai dari album ini,
SLANK mulai menyisipkan souvenir (berbentuk liontin kalung logo SLANK)
sebagai bonus pembelian album. Tujuan dari pemberian bonus ini adalah
untuk menghindari pembajakan album yang semakin merajalela.
Bendera
SLANK semakin gagah berkibar, tahun 1998, SLANK juga menyelenggarakan
konser dengan judul ”Konser Piss 30 Kota” yang kemudian direkam secara
live dan dijual ke pasaran. Ada bonus dua buah lagu baru yaitu ”Pintu”
dan ”Makan Gak Makan”. Album ini banyak sekali mengambil tema lagu-lagu
politik yang dimasukkan ke dalamnya. Hampir di setiap lagu, ada
sedikit ”ceramah” dari Kaka maupun Bimbim. Selain Album live tersebut,
pada tahun 1998 SLANK juga mengeluarkan album VCD Karaoke “Karaoke X-1
dan X-2″.
Tahun 1999 SLANK merilis double album yang diberi judul
”999+09”. Sebuah gerbrakan bagi musik Indonesia. Ada total 27 lagu yang
dibuat dalam dua versi. Yaitu versi abu-abu dan versi yang biru. Versi
yang biru memiliki single ”Bintang Kesiangan” dan ”Anak Mami”
sedangkan versi abu-abu memiliki single ”Orkes Sakit Hati”, ”Ngangkang”
serta ”Malam Minggu Lagi”. Bonus dari album ini adalah sebuah kantong
kecil (seperti saku celana jeans dengan logo SLANK) yang biasa dipakai
di ikat pinggang. Keluarnya double album ini semakin membuktikan bahwa
SLANK masih dapat bertahan, dan mempertegas komposisi formasi ke-14
mereka.
Pada tahun 2000, SLANK menyatakan diri telah bebas
dari narkoba. Hal ini bermula dari keinginan SLANK untuk sembuh
sejalan dengan dimulainya millenium baru. Pada tahun 2001, SLANK sudah
benar-benar sehat. Dan kemudian dirilislah album “Virus” dengan single
“Virus”, “Jakarta Pagi Ini”, dan “#1”. Bonus dari album ini adalah
sebuah tato dan kalender mini. Lagu bertema sosial juga dimasukkan di
album ini. Keprihatinan SLANK tentang pembabatan hutan bisa ditangkap
lewat lagu “Lembah Baliem”. Bahkan SLANK memasukan lagu daerah asal
tanah Papua “Yamko Rambe Yamko” di akhir lagu Lembah Baliem. Di lagu
“#1” dan “Symphaty Blues”, SLANK untuk pertama kalinya memasukkan unsur
orkestra di lagunya. Erwin Gutawa digaet untuk membantunya mengisi
unsur orkestra. Lagu #1 itu sendiri sengaja dipersembahkan untuk Bunda
Iffet yang mampu membantu membebaskan SLANK dari jerat narkoba.
Sukses
album “Virus”, SLANK langsung mengadakan konser Virus Road Show 22
Kota di Indonesia dan hasil livenya sendiri bisa didengar di album yang
diberi judul “A Mild Live Slank Virus Road Show” dengan tambahan satu
buah lagu baru dengan judul “I Miss You But I Hate You” dan bonus
sebuah “Koran Koranan Slank” disetiap pembelian albumnya. Koran Koranan
Slank atau biasa disebut KANS ini adalah cikal bakal lahirnya media
bulletin yang bisa didapatkan secara berkala setiap satu bulan sekali.
Seperti
gak mengenal lelah, SLANK lagi-lagi merilis album studio kesebelas nya
yang diberi titel “Satu-Satu” pada tahun 2003. “Bulan dan Bintang”,
”Gara-gara Kamu”, dan ”Jembatan Gantung” menjadi hitsnya. Lagu Bulan
dan Bintang juga masuk dalam soundtrack film ”Novel Tanpa Huruf R”.
Bonus dalam album ini adalah sebuah kondom, sebagai simbol
keikutsertaan SLANK dalam mendukung kampanye anti HIV/AIDS. Album ini
juga diikuti dengan penghargaan AMI Award kategori Album Rock Terbaik.
SLANK
kemudian menyelenggarakan ”Satu-Satu Live Tour” di kota-kota
Indonesia. Beberapa lagu di konser tersebut dimasukkan ke album live
ketiga mereka yang diberi titel ”Bajakan”.
Bajakan adalah bentuk
kegelisahan SLANK terhadap para pembajak yang dengan mudah dan
gampangnya mencuri hak cipta seorang pemusik. Lagu lagu yang direkam
semuanya adalah live hasil konser di beberapa tempat dan event. Ada
tiga lagu baru yang dimasukkan di album live ketiga Slank ini. ”That’s
All”, yang direkam pada konser ”Satu-Satu Live Tour” ini menjadi single
disusul ”Bendera 1/2 Tiang” yang direkam di studio ”Parah” di Potlot
dan juga lagu hasil kolaborasi dengan group musik dari Korea Selatan
berjudul ”South Asia”. South Asia direkam secara live bersama “Yoon
Band” dari Korea. Lagu ini pernah dibawakan saat Slank bermain di
Korea.
Yoon Band pun ikut berkolaborasi di lagu “I Miss
You But I Hate You” milik SLANK yang direkam pada acara “Impresario”.
Ada juga lagu dimana SLANK berkolaborasi dengan raja dangdut ”Rhoma
Irama” di lagu “Balikin”. Hasil konser “Tiga Dimensi” pun dimasukkan
kesini. Ending album Bajakan adalah “Sumpah Anti Pembajak” yang
dideklarasikan SLANK bersama Slankers se-Indonesia. Bonus album ini
adalah sebuah pick guitar.
Memasuki tahun 2004 SLANK menggelar
konser bersama bernama “Road to Peace” 24 Kota. Yang menarik dari
konser ini adalah, dibawakannya lagu-lagu baru yang belum pernah
dibawakan dan hasil lagunya direkam secara live dan dijadikan album
berikutnya. “Mars Slankers” dan “Salah” menjadi jagoan di album ini. Di
album ini juga dimasukkan sebuah karya dari “Mochtar Embut” berjudul
“Mars Pemilu” yang diaransemen menjadi aransemen rock oleh SLANK. Album
ini konon disebut sebagai album live pertama di dunia. Walaupun sudah
pernah ada yang merekam full album secara live seperti “Greateful Dead”
dan “Blues Traveler”, namun band tersebut tidak merekam nya di atas
panggung seperti yang dilakukan SLANK.
Untuk pematangan
konsep pun, SLANK tidak ragu dan malu untuk menyewa sebuah studio
ketika SLANK berada di kota tempat mereka akan show..Bonus dari album
ini adalah sebuah poster dan masker berlogo peace yang di design oleh
seorang Slanker. Tahun 2004 ini juga SLANK mewakili Indonesia untuk
tampil di acara “MTV Asia Aid” di Thailand dan membawakan sebuah lagu
yang diambil dari album “Satu-Satu” yaitu “Karikatur”. Selain SLANK,
musisi lain yang tampil di event tersebut antara lain Simple Plan,
Rain, Siti Nurhaliza, Namie Amuro, Jay Chou, dan Hoobastank.
Di
akhir tahun 2004, lagi-lagi SLANK merilis sebuah album baru. “P.L.U.R”.
PLUR adalah singkatan dari kata “Peace, Love, Unity, Respect”, sebuah
semboyan baru SLANK. Album ini mengandalkan ”Ku Tak Bisa”, “Biru”, dan
lagu “Juwita Malam” yang merupakan lagu lawas ciptaan Ismail Marzuki.
Lagu Juwita Malam dan Biru masuk dalam soundtrack film ”Banyu Biru”.
Bonus album ini adalah sebuat sticker dan poster kalender. Dan album
ini, di akhir tahun 2005 menurut majalah ”GitarPlus” masuk sebagai
album gitar rock terbaik tahun tersebut bersama dengan Gigi, Edane, dan
Netral. Alasannya adalah permainan gitar Abdee dan Ridho yang
cenderung blues dan rock ‘n roll menyaru ke permainan gitar rock
modern.
Akhir tahun 2004 Indonesia menangis. Terjadi
bencana Tsunami di Aceh. Bencana Aceh tersebut lantas dijadikan
destinasi oleh SLANK untuk mengumpulkan dana dan memberikan sumbangan
di tengah-tengah promo album P.L.U.R tersebut. Akhirnya di awal tahun
2005, SLANK dan Iwan Fals diajak oleh ”Deteksi Production” untuk
menggelar konser di 27 Kota Indonesia yang diberi judul “Bersatu Dalam
Damai”. SLANK dan Iwan Fals berhasil mengumpulkan total Rp. 2,9 Milyar
yang akan disumbangkan untuk korban bencana alam Tsunami di Aceh dan
sekitarnya. Target dari Deteksi dan A Mild adalah Rp. 3 Milyar
sehingga angka tersebut di bulatkan menjadi Rp. 3 Milyar yang di
sumbangkan ke Aceh.
Tahun 2005, SLANK didaulat oleh MTV Indonesia
menjadi Icon dari MTV. Saat itu SLANK berhasil mengalahkan saingan
lainya diantaranya Dewa dan Chrisye. Malam penganugerahan gelar
tersebut diselenggarakan di TMII Jakarta dan musisi yang hadir di situ
membawakan lagu SLANK. Di tahun 2005 ini pula lah SLANK untuk pertama
kalinya show di Korea Selatan.
Pada tanggal 7 Oktober
2005, SLANK bermain di kota Gwangju. ”The May 18 Memorial Foundation”
yang mengundang SLANK untuk tampil dalam acara yang diberi judul ”Echo
of Music Concer”t. SLANK membawakan dua buah lagu yaitu ”Bang Bang Tut”
dan ”Virus (English Version)”. Dalam konser ini, SLANK juga bertemu
kembali dengan ”Yoon Band”, musisi Korea yang pernah berkolaborasi
dengan SLANK dan menghasilkan sebuah lagu yang masuk ke dalam album
mereka masing-masing.
Di penghujung tahun 2005, SLANK kembali
merilis sebuah album studio ke 14 nya yang diberi titel ”Slankissme”.
Slankissme sendiri adalah sebuah ambigu kalimat dari ”Slank Kiss Me,
Slank Is Me, dan Slankisme”. Bimbim menyebut bahwa ada ”13 Ajaran Nggak
Sempurna” dari Slankissme, dan itu harus diketahui oleh para Slanker,
agar mengerti dan menjalani nya. Kenapa, karena memang kesempurnaan
hanya milik Tuhan. Begitu kata Bimbim. Single dari album ini adalah
SBY, singkatan dari ”Sosial Betawi Yoi”, dan dua tembang ballad nya,
”Gak Ada 2nya” dan ”Yang Manis”. Bonus dari album ini adalah poster
SLANKISSME jumbo.
Di awal tahun 2006, SLANK berangkat ke Jepang
untuk konser disana. Konser pada tanggal 2 Januari itu bertujuan untuk
acara ”Charity for Sumatra”. Tahun 2006 ini bisa dibilang tahun
tersibuk SLANK, karena di tahun ini, selain promo album Slankissme,
SLANK juga menjalani tour di beberapa kota di Jawa Barat dan Banten
dalam rangka konser ”Ngedjinggo Bareng Slank” plus melakukan kegiatan
bhakti sosial, lalu merilis ”Album Slank Since 1983” di Malaysia dan
promo di negara tersebut. Bukan hanya itu, SLANK juga mampir ke Amerika
untuk mengisi acara di 5 tempat live house di beberapa kota di
Amerika. SLANK di undang oleh para mahasiswa di sana.
Hal itu
dijadikan kesempatan untuk membawa CD demo album SLANK yang telah di
translate ke bahasa Inggris agar albumnya bisa rilis di luar negeri dan
go international. Untuk itulah SLANK gencar mencari cara dan usaha
agar bisa terbang dan bermain di sana. Kesempatan emas itu pun hadir
tatkala SLANK mengundang dua produser di konser mereka. Satu dari
Amerika dan satu dari Kanada. ”Blues Saraceno”, mantan gitaris group
band ”Poison” yang juga guru gitar Ridho ketika menuntut ilmu di
Musician Institute, Hollywood, hadir sebagai produser yang ingin melihat
aksi SLANK. Dan satu lagi seorang produser dari Kanada yang juga hadir
bersama vokalis dari group Crowned King, Shawn Frank, yang pernah
berkolaborasi dengan Slank ketika konser Soundrenaline tahun 2005 di
Bali turut serta hadir jauh-jauh dari Kanada. Mereka berdua tertarik dan
akhirnya Slank lebih memilih Blues Saraceno.
Alasan
SLANK ingin berkarier di luar negeri karena mereka telah jenuh, dalam
artian, hampir semuanya sudah pernah di raih oleh SLANK di Indonesia.
Makanya, Amerika dan dunia lah tujuan berikutnya. SLANK ingin kembali
menjadi underground, yang belum dikenal oleh siapa-siapa. Inilah
pertama kalinya SLANK ke Amerika. Ketika di Las Vegas, Bimbim sempat
membuat sebuah lagu yang hasilnya ada di album berikutnya dari SLANK.
Tahun
2007 SLANK kembali mengeluarkan album dengan titel ”Slow But Sure”.
Inilah album yang bisa dibilang ”jawaban” dari para pendengar musik
terutama Slanker karena banyak sekali yang meminta Slank untuk bermain
akustik/unplugged. Di album ini, SLANK bermain sangat sederhana. Tidak
ada bunyi bising. Yang ada hanyalah suara-suara bersahabat dari
perkusi, gitar akustik, dan selingan harmonika. Satu lagu yang
diciptakan oleh Bimbim di Las Vegas pada tahun 2006 yang dimasukan ke
album ini yaitu ”Sin City”. Kemudian ada lagu ”My Scooter Love” yag
diciptakan oleh Kaka. Ada juga lagu berjudul ”Lapindo” yang
mengkritisisasi semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo. Dan ada sebuah
hidden track di lagu ini berjudul “Lilo”. Lagu ini tidak terdapat di
album tersebut tapi liriknya terdapat di booklet album. Lagu ini bisa
didapat bila membeli software game “Lilo”. Single di lagu ini adalah
“Cinta?”, “Slalu Begitu”, dan “Sejak Kau Benci”. Bonus dari album ini
adalah sebuah celana boxer.
Tahun 2007, SLANK mendapat kesempatan
untuk mengisi original soundtrack dari film “Get Married”. Album OST.
Get Married sendiri berisi 2 lagu baru, “Pandangan Pertama” (lagu lawas
milik A. Rafiq) yang diaransemen ulang oleh SLANK dan dinyanyikan
bersama “Nirina Zubir”, salah satu pemain film Get Married. Kemudian 1
lagu baru lagi berjudul “Kuil Cinta” ditambah 8 lagu lama yang diambil
dari beberapa album SLANK.
Masih di tahun 2007, SLANK kemudian
meraih hasil dari CD demo yang dibawa ke Amerika tahun 2006. Blues
Saraceno bersedia untuk menjadi produser SLANK untuk perilisan album
internasional pertamanya. Rekaman SLANK di Studio “City Sound” dimulai.
Ada sepuluh lagu yang disertakan dalam album ini.
Blues
Saraceno yang juga mantan guru gitar Ridho memberi banyak sekali
masukan dan ide nya kepada SLANK. Selesai rekaman album barunya di
Amerika, SLANK kemudian pulang ke Indonesia. Di Indonesia sendiri,
SLANK berkenalan dengan musisi dari Jepang bernama “The Big Hip”. The
Big Hip yang tinggal menyisakan dua orang personil tersisa (Mikio
Shirai/Keybord, dan Tetsuya Kajiwara/Drum) melakukan jamming di Potlot
bersama SLANK dan mereka sepakat untuk membuat sebuah album kolaborasi.
Proses rekaman segera berlangsung di Parah Studio antara 30 Oktober-2
November 2007 dengan 12 lagu yang bermayoritas nada cinta SLANK sebagai
bagian sumbangsih dan dedikasi mereka kepada musik yang mendunia. Awal
tahun 2008 album kolaborasi “Slank-The Big Hip” dilepas di pasar musik
Indonesia. Lagu “Seperti Para Koruptor” dan “Kilav” menjadi single
andalan, selain beberapa lagu berbahasa Jepang yang diciptakan bersama
dengan The Big Hip, seperti “Sora (Halilintar)”, “Yumede Areba II
(Semoga Ini Mimpi)”, “Utaga Utaidasu (Lagu Mulai Bernyanyi)” dan “Yuwaku
(Godaan)”.
September 2008, SLANK kembali ke Amerika untuk
merampungkan konsep album internasional mereka yang sebelumnya sudah
direkam bareng Blues Saraceno. Setelah semua konsep matang, pada
tanggal 30 September 2008 album bertitel “Anthem For The Broken
Hearted” resmi diluncurkan di Amerika.
Ada 10 lagu
berbahasa Inggris dalam album tersebut. Berisi 5 lagu lawas yang
ditranslate ke dalam bahasa Inggris, yaitu “Devil In U (Gara-gara
Kamu), “Caricature (Karikatur)”, “I Miss U But I Hate U”, “Virus”, dan
“Too Sweet To Forget (Terlalu Manis)”, serta 5 buah lagu baru, yaitu
“Do Something”, “Drug Me Up”, “Love Curse”, “Since You’ve Been Gone”,
dan “Wake Up Tonight”.
Setelah meluncurkan album baru tersebut,
SLANK kemudian melakukan tour promo di kota-kota di Amerika, dimulai
dari Los Angeles (25 Oktober), kemudian di Chico California (12
November) lanjut ke Nevada (13 November) dan Hollywood (20 November).
Di Indonesia sendiri album “Anthem For The Broken Hearted” dikeluarkan
pada awal 2009, dengan bonus sebuah kaos berlogo album baru tersebut.
Di mulai dari sini konsep penjualan album pun mulai dirubah. Bimbim
menyebutnya SLANK nggak jualan album lagi, akan tetapi jualan kaos
dengan bonus sebuah album. Sebuah trik pemasaran untuk memerangi
pembajakan.
Desember 2008, bertepatan dengan hari ulang tahun yang
ke-25, SLANK bekerjasama dengan ”Esia” meluncurkan ”Hape Esia Slank”
yang ditujukan kepada para Slankers. Peluncuran HP ini merupakan suatu
kolaborasi dari operator telekomunikasi dan group band yang belum
pernah dilakukan di Indonesia.
Setelah sukses melepas album baru
berbahasa Inggris sekaligus bekerjasama dengan operator telekomunikasi
dalam meluncurkan produk HP, di tahun 2009 SLANK mulai menjajal dunia
akting. SLANK bikin film dengan judul “Generasi Biru”. Film Generasi
Biru adalah sebuah film musikal tanpa dialog sebagai persembahan 25
tahun perjalanan musik SLANK, hasil kolaborasi tiga orang sutradara
Garin Nugroho, John De Rantau dan Dosy Omar.
Ide
kreatifnya dibuat oleh Garin Nugroho yang terinspirasi dari lagu-lagu
karya SLANK selama 25 tahun sejak 1983-2008. Peluncuran film ini juga
dibarengi dengan peluncuran album OST. Generasi Biru yang berisi 2 lagu
baru berjudul “Slank Dance” dan “Monogami”. 13 lagu sisanya diambil
dari album lama dengan komposisi 2 lagu live (“Indonesiakan Una” dan
“Mars Slankers”) serta “Cekal” yang di remake ulang.
September
2009, SLANK kembali merilis album original soundtrack untuk film ”Get
Married 2”. Dua lagu baru kembali dimasukkan, “Plis” featuring Nirina
Zubir, dan “Cinta Kia”, 10 lagu sisanya kembali diambil dari album
lama.
Akhir tahun 2009 ini juga dianggap sebagai tahun
terberat bagi SLANK. Beberapa rencana konser terpaksa dibatalkan karena
sulitnya mendapatkan ijin dari pihak berwajib. Bahkan rencana
pagelaran konser peringatan ulang tahun ke-26 pun yang semula akan
digelar di PRJ Jakarta, lagi-lagi harus batal karena masalah perijinan.
Faktor keamanan menjadi alasan, hal ini berlangsung hingga awal 2010.
Dalam kondisi ”pencekalan” manggung ini, SLANK akhirnya memutuskan
untuk lebih konsentrasi menyiapkan album baru.
Juni 2010, SLANK meluncurkan album teranyar mereka yang bertitel ”Jurus Tandur No.18”.
”Jurus
Tandur” adalah singkatan dari ”Maju Terus Pantang Mundur”. Sedangkan
”No. 18” adalah pertanda bahwa album ini merupakan album ke-18. Ada 17
buah lagu yang diramu dalam album Jurus Tandur ini. Salah satunya lagu
berjudul ”Kukejar dan Kutangkap Kau (KKK)”, dimana dalam lagu ini SLANK
menggaet artis ”Fahrani” yang notabene tidak punya latar belakang
sebagai penyanyi. Selain itu ada lagu ”Krisis Air”, dimana disela-sela
lagunya tersisip sebuah puisi yang dibacakan oleh artis ”Nadine
Chandrawinata”. Benar-benar suatu bentuk kolaborasi yang dahsyat. Lagu
”Jurus Tandur”, ”Biar Happy”, ”Menyakitimu”, ”Cemburu.Com” menjadi
single andalan, selain 13 lagu lainnya. Bonus dari album ini adalah
sebuah t-shirt.
Selain merilis album Jurus Tandur dalam bentuk
kaset dan CD, SLANK juga meluncurkan dalam bentuk gadget. ”Nexian”,
sebuah produsen gadget terkenal bekerja sama bersama SLANK meluncurkan
”HP Nexian Slank NX-G503”, dimana dalam HP tersebut terdapat mini album
dari Jurus Tandur. Bahkan peluncuran album SLANK kali ini telah
memecahkan ”Rekor MURI” mengenai album pertama yang diluncurkan melalui
media handphone. Juga Nexian lah yang menjadi produsen HP pertama yang
mengeluarkan HP sebagai media album musik.
Tahun 2010 menjadi
tahun kebangkitan SLANK. Setelah mengeluarkan album baru, masalah
perijinan konser pun sudah mulai gampang. SLANK kembali naik panggung
menyapa para Slankers. Bahkan, pada tanggal 21 Oktober 2010, bertempat
di ”Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail”, ”Rumah Pohon Indonesia” dan
”Djarum Super” menghadirkan film ”Metamorfoblus” kepada media untuk
pertama kalinya.
“Metamorfoblus” adalah sebuah film dokumenter
yang membahas kehidupan beberapa Slankers yang sangat dipengaruhi oleh
SLANK itu sendiri. Film ini disutradarai oleh Dosy Amar yang dahulu
juga turut menyutradarai “Generasi Biru”. Melihat pengaruh SLANK dalam
kehidupan Slankers dan bagaimana Slankers menginterpretasikan lirik
dari setiap lagu SLANK dari sudut pandang mereka adalah sesuatu yang
unik dan berbeda. Namun, itu bukanlah satu-satunya yang unik dari film
dokumenter ini.
Dengan band ikonik seperti SLANK, film ini
ternyata tidak dirilis ke jaringan bioskop komersil seperti film-film
lainnya. Dalam gerakan bioskop alternatif ini, “Metamorfoblus” akan
bergerilya ke tempat-tempat yang relatif layak sehingga pembuat film
dan penonton film dapat bertemu dalam sebuah peristiwa bernama
pemutaran film. Tujuannya adalah memberikan jembatan yang jauh lebih
lebar, antara para pembuat film dan para penonton film, sehingga bisa
diapresiasi sebagai sebuah karya seni dan sebuah hiburan yang bisa
menghasilkan nilai-nilai ekonomi.
Desember 2010, dalam rangka
ulang tahun SLANK yang ke-27, Nexian kembali mengeluarkan handphone
terbarunya yang bertemakan “Nexian-Slank 27th Anniversary”. Tidak jauh
dari yang pertama, handphone ini mempunyai banyak fitur-fitur yang
membuat para Slankers lebih dekat dengan SLANK.
27 tahun sudah
SLANK hidup dalam dinamika musik Indonesia. Sebuah perjalanan
metamorfosis yang sangat panjang. SLANK akan tetap terus berkarya,
SLANK akan tetap menyuarakan suara-suara minor dari sekeliling mereka,
SLANK akan tetap tampil apa adanya, dan SLANK akan tetap berteriak
Peace, Love, Unity, Respect..!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar