Selasa, 10 April 2012

Metamorphosis

Tahun 1997 formasi baru SLANK diresmikan. Bimbim (Drum), Kaka (Vokal), Ivanka (Bassis), Abdee Negara (Gitar), dan Ridho Hafiedz (Gitar). Di luar dugaan, formasi ini sedikit banyak mampu menghapus bayang-bayang Bongky, Pay, dan Indra Q. Minimal, SLANK dianggap bisa menemukan bentuk baru tanpa kehilangan ciri khas.
Album baru bertitel ”Tujuh” dilepas dengan mengandalkan single ”Balikin”. Lagu yang menandakan bahwa Bimbim, Kaka, dan Ivanka ingin rehat dan sehat dari ketergantungan narkoba. Ditambah dengan Abdee dan Ridho yang benar-benar bersih dari narkoba semakin menguatkan niat mereka. Album tersebut terjual satu juta copy hanya dalam hitungan minggu. Di tahun ini pulalah Bunda Iffet selaku Ibunda dari Bimbim mengambil alih jabatan menjadi Manajer Slank.
Setahun kemudian SLANK kembali melepas album baru, ”Mata Hati Reformasi”, dengan hits single “Ketinggalan Jaman”. Kali ini SLANK tampil jauh lebih garang dari album sebelumnya. Kegusaran anak muda melihat reformasi yang makin hari makin tidak jelas, menjadi tema sentral. Dan dimulai dari album ini, SLANK mulai menyisipkan souvenir (berbentuk liontin kalung logo SLANK) sebagai bonus pembelian album. Tujuan dari pemberian bonus ini adalah untuk menghindari pembajakan album yang semakin merajalela.
Bendera SLANK semakin gagah berkibar, tahun 1998, SLANK juga menyelenggarakan konser dengan judul ”Konser Piss 30 Kota” yang kemudian direkam secara live dan dijual ke pasaran. Ada bonus dua buah lagu baru yaitu ”Pintu” dan ”Makan Gak Makan”. Album ini banyak sekali mengambil tema lagu-lagu politik yang dimasukkan ke dalamnya. Hampir di setiap lagu, ada sedikit ”ceramah” dari Kaka maupun Bimbim. Selain Album live tersebut, pada tahun 1998 SLANK juga mengeluarkan album VCD Karaoke “Karaoke X-1 dan X-2″.
Tahun 1999 SLANK merilis double album yang diberi judul ”999+09”. Sebuah gerbrakan bagi musik Indonesia. Ada total 27 lagu yang dibuat dalam dua versi. Yaitu versi abu-abu dan versi yang biru. Versi yang biru memiliki single ”Bintang Kesiangan” dan ”Anak Mami” sedangkan versi abu-abu memiliki single ”Orkes Sakit Hati”, ”Ngangkang” serta ”Malam Minggu Lagi”. Bonus dari album ini adalah sebuah kantong kecil (seperti saku celana jeans dengan logo SLANK) yang biasa dipakai di ikat pinggang. Keluarnya double album ini semakin membuktikan bahwa SLANK masih dapat bertahan, dan mempertegas komposisi formasi ke-14 mereka.

Pada tahun 2000, SLANK menyatakan diri telah bebas dari narkoba. Hal ini bermula dari keinginan SLANK untuk sembuh sejalan dengan dimulainya millenium baru. Pada tahun 2001, SLANK sudah benar-benar sehat. Dan kemudian dirilislah album “Virus” dengan single “Virus”, “Jakarta Pagi Ini”, dan “#1”. Bonus dari album ini adalah sebuah tato dan kalender mini. Lagu bertema sosial juga dimasukkan di album ini. Keprihatinan SLANK tentang pembabatan hutan bisa ditangkap lewat lagu “Lembah Baliem”. Bahkan SLANK memasukan lagu daerah asal tanah Papua “Yamko Rambe Yamko” di akhir lagu Lembah Baliem. Di lagu “#1” dan “Symphaty Blues”, SLANK untuk pertama kalinya memasukkan unsur orkestra di lagunya. Erwin Gutawa digaet untuk membantunya mengisi unsur orkestra. Lagu #1 itu sendiri sengaja dipersembahkan untuk Bunda Iffet yang mampu membantu membebaskan SLANK dari jerat narkoba.
Sukses album “Virus”, SLANK langsung mengadakan konser Virus Road Show 22 Kota di Indonesia dan hasil livenya sendiri bisa didengar di album yang diberi judul “A Mild Live Slank Virus Road Show” dengan tambahan satu buah lagu baru dengan judul “I Miss You But I Hate You” dan bonus sebuah “Koran Koranan Slank” disetiap pembelian albumnya. Koran Koranan Slank atau biasa disebut KANS ini adalah cikal bakal lahirnya media bulletin yang bisa didapatkan secara berkala setiap satu bulan sekali.
Seperti gak mengenal lelah, SLANK lagi-lagi merilis album studio kesebelas nya yang diberi titel “Satu-Satu” pada tahun 2003. “Bulan dan Bintang”, ”Gara-gara Kamu”, dan ”Jembatan Gantung” menjadi hitsnya. Lagu Bulan dan Bintang juga masuk dalam soundtrack film ”Novel Tanpa Huruf R”. Bonus dalam album ini adalah sebuah kondom, sebagai simbol keikutsertaan SLANK dalam mendukung kampanye anti HIV/AIDS. Album ini juga diikuti dengan penghargaan AMI Award kategori Album Rock Terbaik.
SLANK kemudian menyelenggarakan ”Satu-Satu Live Tour” di kota-kota Indonesia. Beberapa lagu di konser tersebut dimasukkan ke album live ketiga mereka yang diberi titel ”Bajakan”.
Bajakan adalah bentuk kegelisahan SLANK terhadap para pembajak yang dengan mudah dan gampangnya mencuri hak cipta seorang pemusik. Lagu lagu yang direkam semuanya adalah live hasil konser di beberapa tempat dan event. Ada tiga lagu baru yang dimasukkan di album live ketiga Slank ini. ”That’s All”, yang direkam pada konser ”Satu-Satu Live Tour” ini menjadi single disusul ”Bendera 1/2 Tiang” yang direkam di studio ”Parah” di Potlot dan juga lagu hasil kolaborasi dengan group musik dari Korea Selatan berjudul ”South Asia”. South Asia direkam secara live bersama “Yoon Band” dari Korea. Lagu ini pernah dibawakan saat Slank bermain di Korea.

Yoon Band pun ikut berkolaborasi di lagu “I Miss You But I Hate You” milik SLANK yang direkam pada acara “Impresario”. Ada juga lagu dimana SLANK berkolaborasi dengan raja dangdut ”Rhoma Irama” di lagu “Balikin”. Hasil konser “Tiga Dimensi” pun dimasukkan kesini. Ending album Bajakan adalah “Sumpah Anti Pembajak” yang dideklarasikan SLANK bersama Slankers se-Indonesia. Bonus album ini adalah sebuah pick guitar.
Memasuki tahun 2004 SLANK menggelar konser bersama bernama “Road to Peace” 24 Kota. Yang menarik dari konser ini adalah, dibawakannya lagu-lagu baru yang belum pernah dibawakan dan hasil lagunya direkam secara live dan dijadikan album berikutnya. “Mars Slankers” dan “Salah” menjadi jagoan di album ini. Di album ini juga dimasukkan sebuah karya dari “Mochtar Embut” berjudul “Mars Pemilu” yang diaransemen menjadi aransemen rock oleh SLANK. Album ini konon disebut sebagai album live pertama di dunia. Walaupun sudah pernah ada yang merekam full album secara live seperti “Greateful Dead” dan “Blues Traveler”, namun band tersebut tidak merekam nya di atas panggung seperti yang dilakukan SLANK.

Untuk pematangan konsep pun, SLANK tidak ragu dan malu untuk menyewa sebuah studio ketika SLANK berada di kota tempat mereka akan show..Bonus dari album ini adalah sebuah poster dan masker berlogo peace yang di design oleh seorang Slanker. Tahun 2004 ini juga SLANK mewakili Indonesia untuk tampil di acara “MTV Asia Aid” di Thailand dan membawakan sebuah lagu yang diambil dari album “Satu-Satu” yaitu “Karikatur”. Selain SLANK, musisi lain yang tampil di event tersebut antara lain Simple Plan, Rain, Siti Nurhaliza, Namie Amuro, Jay Chou, dan Hoobastank.
Di akhir tahun 2004, lagi-lagi SLANK merilis sebuah album baru. “P.L.U.R”. PLUR adalah singkatan dari kata “Peace, Love, Unity, Respect”, sebuah semboyan baru SLANK. Album ini mengandalkan ”Ku Tak Bisa”, “Biru”, dan lagu “Juwita Malam” yang merupakan lagu lawas ciptaan Ismail Marzuki. Lagu Juwita Malam dan Biru masuk dalam soundtrack film ”Banyu Biru”. Bonus album ini adalah sebuat sticker dan poster kalender. Dan album ini, di akhir tahun 2005 menurut majalah ”GitarPlus” masuk sebagai album gitar rock terbaik tahun tersebut bersama dengan Gigi, Edane, dan Netral. Alasannya adalah permainan gitar Abdee dan Ridho yang cenderung blues dan rock ‘n roll menyaru ke permainan gitar rock modern.

Akhir tahun 2004 Indonesia menangis. Terjadi bencana Tsunami di Aceh. Bencana Aceh tersebut lantas dijadikan destinasi oleh SLANK untuk mengumpulkan dana dan memberikan sumbangan di tengah-tengah promo album P.L.U.R tersebut. Akhirnya di awal tahun 2005, SLANK dan Iwan Fals diajak oleh ”Deteksi Production” untuk menggelar konser di 27 Kota Indonesia yang diberi judul “Bersatu Dalam Damai”. SLANK dan Iwan Fals berhasil mengumpulkan total Rp. 2,9 Milyar yang akan disumbangkan untuk korban bencana alam Tsunami di Aceh dan sekitarnya. Target dari Deteksi dan A Mild adalah       Rp. 3 Milyar sehingga angka tersebut di bulatkan menjadi Rp. 3 Milyar yang di sumbangkan ke Aceh.
Tahun 2005, SLANK didaulat oleh MTV Indonesia menjadi Icon dari MTV. Saat itu SLANK berhasil mengalahkan saingan lainya diantaranya Dewa dan Chrisye. Malam penganugerahan gelar tersebut diselenggarakan di TMII Jakarta dan musisi yang hadir di situ membawakan lagu SLANK.  Di tahun 2005 ini pula lah SLANK untuk pertama kalinya show di Korea Selatan.

Pada tanggal 7 Oktober 2005, SLANK bermain di kota Gwangju. ”The May 18 Memorial Foundation” yang mengundang SLANK untuk tampil dalam acara yang diberi judul ”Echo of Music Concer”t. SLANK membawakan dua buah lagu yaitu ”Bang Bang Tut” dan ”Virus (English Version)”. Dalam konser ini, SLANK juga bertemu kembali dengan ”Yoon Band”, musisi Korea yang pernah berkolaborasi dengan SLANK dan menghasilkan sebuah lagu yang masuk ke dalam album mereka masing-masing.
Di penghujung tahun 2005, SLANK kembali merilis sebuah album studio ke 14 nya yang diberi titel ”Slankissme”. Slankissme sendiri adalah sebuah ambigu kalimat dari ”Slank Kiss Me, Slank Is Me, dan Slankisme”. Bimbim menyebut bahwa ada ”13 Ajaran Nggak Sempurna” dari Slankissme, dan itu harus diketahui oleh para Slanker, agar mengerti dan menjalani nya. Kenapa, karena memang kesempurnaan hanya milik Tuhan. Begitu kata Bimbim. Single dari album ini adalah SBY, singkatan dari ”Sosial Betawi Yoi”, dan dua tembang ballad nya, ”Gak Ada 2nya” dan ”Yang Manis”. Bonus dari album ini adalah poster SLANKISSME jumbo.
Di awal tahun 2006, SLANK berangkat ke Jepang untuk konser disana. Konser pada tanggal 2 Januari itu bertujuan untuk acara ”Charity for Sumatra”. Tahun 2006 ini bisa dibilang tahun tersibuk SLANK, karena di tahun ini, selain promo album Slankissme, SLANK juga menjalani tour di beberapa kota di Jawa Barat dan Banten dalam rangka konser ”Ngedjinggo Bareng Slank” plus melakukan kegiatan bhakti sosial, lalu merilis ”Album Slank Since 1983” di Malaysia dan promo di negara tersebut. Bukan hanya itu, SLANK juga mampir ke Amerika untuk mengisi acara di 5 tempat live house di beberapa kota di Amerika. SLANK di undang oleh para mahasiswa di sana.
Hal itu dijadikan kesempatan untuk membawa CD demo album SLANK yang telah di translate ke bahasa Inggris agar albumnya bisa rilis di luar negeri dan go international. Untuk itulah SLANK gencar mencari cara dan usaha agar bisa terbang dan bermain di sana. Kesempatan emas itu pun hadir tatkala SLANK mengundang dua produser di konser mereka. Satu dari Amerika dan satu dari Kanada. ”Blues Saraceno”, mantan gitaris group band ”Poison” yang juga guru gitar Ridho ketika menuntut ilmu di Musician Institute, Hollywood, hadir sebagai produser yang ingin melihat aksi SLANK. Dan satu lagi seorang produser dari Kanada yang juga hadir bersama vokalis dari group Crowned King, Shawn Frank, yang pernah berkolaborasi dengan Slank ketika konser Soundrenaline tahun 2005 di Bali turut serta hadir jauh-jauh dari Kanada. Mereka berdua tertarik dan akhirnya Slank lebih memilih Blues Saraceno.

Alasan SLANK ingin berkarier di luar negeri karena mereka telah jenuh, dalam artian, hampir semuanya sudah pernah di raih oleh SLANK di Indonesia. Makanya, Amerika dan dunia lah tujuan berikutnya. SLANK ingin kembali menjadi underground, yang belum dikenal oleh siapa-siapa. Inilah pertama kalinya SLANK ke Amerika. Ketika di Las Vegas, Bimbim sempat membuat sebuah lagu yang hasilnya ada di album berikutnya dari SLANK.
Tahun 2007 SLANK kembali mengeluarkan album dengan titel ”Slow But Sure”. Inilah album yang bisa dibilang ”jawaban” dari para pendengar musik terutama Slanker karena banyak sekali yang meminta Slank untuk bermain akustik/unplugged. Di album ini, SLANK bermain sangat sederhana. Tidak ada bunyi bising. Yang ada hanyalah suara-suara bersahabat dari perkusi, gitar akustik, dan selingan harmonika. Satu lagu yang diciptakan oleh Bimbim di Las Vegas pada tahun 2006 yang dimasukan ke album ini yaitu ”Sin City”. Kemudian ada lagu ”My Scooter Love” yag diciptakan oleh Kaka. Ada juga lagu berjudul ”Lapindo” yang mengkritisisasi semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo. Dan ada sebuah hidden track di lagu ini berjudul “Lilo”. Lagu ini tidak terdapat di album tersebut tapi liriknya terdapat di booklet album. Lagu ini bisa didapat bila membeli software game “Lilo”. Single di lagu ini adalah “Cinta?”, “Slalu Begitu”, dan “Sejak Kau Benci”. Bonus dari album ini adalah sebuah celana boxer.
Tahun 2007, SLANK mendapat kesempatan untuk mengisi original soundtrack dari film “Get Married”. Album OST. Get Married sendiri berisi 2 lagu baru, “Pandangan Pertama” (lagu lawas milik A. Rafiq) yang diaransemen ulang oleh SLANK dan dinyanyikan bersama “Nirina Zubir”, salah satu pemain film Get Married. Kemudian 1 lagu baru lagi berjudul “Kuil Cinta” ditambah 8 lagu lama yang diambil dari beberapa album SLANK.
Masih di tahun 2007, SLANK kemudian meraih hasil dari CD demo yang dibawa ke Amerika tahun 2006. Blues Saraceno bersedia untuk menjadi produser SLANK untuk perilisan album internasional pertamanya. Rekaman SLANK di Studio “City Sound” dimulai. Ada sepuluh lagu yang disertakan dalam album ini.

Blues Saraceno yang juga mantan guru gitar Ridho memberi banyak sekali masukan dan ide nya kepada SLANK. Selesai rekaman album barunya di Amerika, SLANK kemudian pulang ke Indonesia. Di Indonesia sendiri, SLANK berkenalan dengan musisi dari Jepang bernama “The Big Hip”. The Big Hip yang tinggal menyisakan dua orang personil tersisa (Mikio Shirai/Keybord, dan Tetsuya Kajiwara/Drum) melakukan jamming di Potlot bersama SLANK dan mereka sepakat untuk membuat sebuah album kolaborasi. Proses rekaman segera berlangsung di Parah Studio antara 30 Oktober-2 November 2007 dengan 12 lagu yang bermayoritas nada cinta SLANK sebagai bagian sumbangsih dan dedikasi mereka kepada musik yang mendunia. Awal tahun 2008 album kolaborasi “Slank-The Big Hip” dilepas di pasar musik Indonesia. Lagu “Seperti Para Koruptor” dan “Kilav” menjadi single andalan, selain beberapa lagu berbahasa Jepang yang diciptakan bersama dengan The Big Hip, seperti “Sora (Halilintar)”, “Yumede Areba II (Semoga Ini Mimpi)”, “Utaga Utaidasu (Lagu Mulai Bernyanyi)” dan “Yuwaku (Godaan)”.
September 2008, SLANK kembali ke Amerika untuk merampungkan konsep album internasional mereka yang sebelumnya sudah direkam bareng Blues Saraceno. Setelah semua konsep matang, pada tanggal 30 September 2008 album bertitel “Anthem For The Broken Hearted” resmi diluncurkan di Amerika.

Ada 10 lagu berbahasa Inggris dalam album tersebut. Berisi 5 lagu lawas yang ditranslate ke dalam bahasa Inggris, yaitu “Devil In U (Gara-gara Kamu), “Caricature (Karikatur)”, “I Miss U But I Hate U”, “Virus”, dan “Too Sweet To Forget (Terlalu Manis)”, serta 5 buah lagu baru, yaitu “Do Something”, “Drug Me Up”, “Love Curse”, “Since You’ve Been Gone”, dan “Wake Up Tonight”.
Setelah meluncurkan album baru tersebut, SLANK kemudian melakukan tour promo di kota-kota di Amerika, dimulai dari Los Angeles (25 Oktober), kemudian di Chico California (12 November) lanjut ke Nevada (13 November) dan Hollywood (20 November). Di Indonesia sendiri album “Anthem For The Broken Hearted” dikeluarkan pada awal 2009, dengan bonus sebuah kaos berlogo album baru tersebut. Di mulai dari sini konsep penjualan album pun mulai dirubah. Bimbim menyebutnya SLANK nggak jualan album lagi, akan tetapi jualan kaos dengan bonus sebuah album. Sebuah trik pemasaran untuk memerangi pembajakan.
Desember 2008, bertepatan dengan hari ulang tahun yang ke-25, SLANK bekerjasama dengan ”Esia” meluncurkan ”Hape Esia Slank” yang ditujukan kepada para Slankers. Peluncuran HP ini merupakan suatu kolaborasi dari operator telekomunikasi dan group band yang belum pernah dilakukan di Indonesia.
Setelah sukses melepas album baru berbahasa Inggris sekaligus bekerjasama dengan operator telekomunikasi dalam meluncurkan produk HP, di tahun 2009 SLANK mulai menjajal dunia akting. SLANK bikin film dengan judul “Generasi Biru”. Film Generasi Biru adalah sebuah film musikal tanpa dialog sebagai persembahan 25 tahun perjalanan musik SLANK, hasil kolaborasi tiga orang sutradara Garin Nugroho, John De Rantau dan Dosy Omar.

Ide kreatifnya dibuat oleh Garin Nugroho yang terinspirasi dari lagu-lagu karya SLANK selama 25 tahun sejak 1983-2008. Peluncuran film ini juga dibarengi dengan peluncuran album OST. Generasi Biru yang berisi 2 lagu baru berjudul “Slank Dance” dan “Monogami”. 13 lagu sisanya diambil dari album lama dengan komposisi 2 lagu live (“Indonesiakan Una” dan “Mars Slankers”) serta “Cekal” yang di remake ulang.
September 2009, SLANK kembali merilis album original soundtrack untuk film ”Get Married 2”. Dua lagu baru kembali dimasukkan, “Plis” featuring Nirina Zubir, dan “Cinta Kia”, 10 lagu sisanya kembali diambil dari album lama.

Akhir tahun 2009 ini juga dianggap sebagai tahun terberat bagi SLANK. Beberapa rencana konser terpaksa dibatalkan karena sulitnya mendapatkan ijin dari pihak berwajib. Bahkan rencana pagelaran konser peringatan ulang tahun ke-26 pun yang semula akan digelar di PRJ Jakarta, lagi-lagi harus batal karena masalah perijinan. Faktor keamanan menjadi alasan, hal ini berlangsung hingga awal 2010. Dalam kondisi ”pencekalan” manggung ini, SLANK akhirnya memutuskan untuk lebih konsentrasi menyiapkan album baru.
Juni 2010, SLANK meluncurkan album teranyar mereka yang bertitel ”Jurus Tandur No.18”.

”Jurus Tandur” adalah singkatan dari ”Maju Terus Pantang Mundur”. Sedangkan ”No. 18” adalah pertanda bahwa album ini merupakan album ke-18. Ada 17 buah lagu yang diramu dalam album Jurus Tandur ini. Salah satunya lagu berjudul ”Kukejar dan Kutangkap Kau (KKK)”, dimana dalam lagu ini SLANK menggaet artis ”Fahrani” yang notabene tidak punya latar belakang sebagai penyanyi. Selain itu ada lagu ”Krisis Air”, dimana disela-sela lagunya tersisip sebuah puisi yang dibacakan oleh artis ”Nadine Chandrawinata”. Benar-benar suatu bentuk kolaborasi yang dahsyat. Lagu ”Jurus Tandur”, ”Biar Happy”, ”Menyakitimu”, ”Cemburu.Com” menjadi single andalan, selain 13 lagu lainnya. Bonus dari album ini adalah sebuah t-shirt.
Selain merilis album Jurus Tandur dalam bentuk kaset dan CD, SLANK juga meluncurkan dalam bentuk gadget. ”Nexian”, sebuah produsen gadget terkenal bekerja sama bersama SLANK meluncurkan ”HP Nexian Slank NX-G503”, dimana dalam HP tersebut terdapat mini album dari Jurus Tandur. Bahkan peluncuran album SLANK kali ini telah memecahkan ”Rekor MURI” mengenai album pertama yang diluncurkan melalui media handphone. Juga Nexian lah yang menjadi produsen HP pertama yang mengeluarkan HP sebagai media album musik.
Tahun 2010 menjadi tahun kebangkitan SLANK. Setelah mengeluarkan album baru, masalah perijinan konser pun sudah mulai gampang. SLANK kembali naik panggung menyapa para Slankers. Bahkan, pada tanggal 21 Oktober 2010, bertempat di ”Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail”, ”Rumah Pohon Indonesia” dan ”Djarum Super” menghadirkan film ”Metamorfoblus” kepada media untuk pertama kalinya.
“Metamorfoblus” adalah sebuah film dokumenter yang membahas kehidupan beberapa Slankers yang sangat dipengaruhi oleh SLANK itu sendiri. Film ini disutradarai oleh Dosy Amar yang dahulu juga turut menyutradarai “Generasi Biru”. Melihat pengaruh SLANK dalam kehidupan Slankers dan bagaimana Slankers menginterpretasikan lirik dari setiap lagu SLANK dari sudut pandang mereka adalah sesuatu yang unik dan berbeda. Namun, itu bukanlah satu-satunya yang unik dari film dokumenter ini.

Dengan band ikonik seperti SLANK, film ini ternyata tidak dirilis ke jaringan bioskop komersil seperti film-film lainnya. Dalam gerakan bioskop alternatif ini, “Metamorfoblus” akan bergerilya ke tempat-tempat yang relatif layak sehingga pembuat film dan penonton film dapat bertemu dalam sebuah peristiwa bernama pemutaran film. Tujuannya adalah memberikan jembatan yang jauh lebih lebar, antara para pembuat film dan para penonton film, sehingga bisa diapresiasi sebagai sebuah karya seni dan sebuah hiburan yang bisa menghasilkan nilai-nilai ekonomi.
Desember 2010, dalam rangka ulang tahun SLANK yang ke-27, Nexian kembali mengeluarkan handphone terbarunya yang bertemakan “Nexian-Slank 27th Anniversary”. Tidak jauh dari yang pertama, handphone ini mempunyai banyak fitur-fitur yang membuat para Slankers lebih dekat dengan SLANK.
27 tahun sudah SLANK hidup dalam dinamika musik Indonesia. Sebuah perjalanan metamorfosis yang sangat panjang. SLANK akan tetap terus berkarya, SLANK akan tetap menyuarakan suara-suara minor dari sekeliling mereka, SLANK akan tetap tampil apa adanya, dan SLANK akan tetap berteriak Peace, Love, Unity, Respect..!!

Senin, 09 April 2012

SLANK LAWAS YOO






IVAN : NOMOR SATU MUSIK, NOMOR DUA PACARAN

Sejak kecil Ivanka, emang doyan musik. Kelas dua SMP udah mulai ngeband."Abis, informsi yang gue terima dari koran dan majalah, jadi anak band asyik," kata cowok kelahiran Jakarta 9 Desember 1971 itu. Tapi Ivan pantang menyerah, keinginan terjun ke dunia musik malah menggebu-gebu waktu tetangganya membeli perlatan musik, ditaro diterasnya pula. Siriklah dia. Semula dia sering kena damprat bokap kalo kepergok lagi latihan. Lama-kelamaan, bokapnya sendiri yang ngajarin main gitar. "Orang pertama yang ngajarin kenal instrumen, ya bokap gue," kata cowok yang pernah ikutan Festival Rock Sejawa Bali,1988 ini. Maklum acara ngeband waktu itu lagi ngetrend. Ivan jelas nggak mau ketinggalan.
Karena terasa keasyikan, sekolahnya di SMU 17 Agustus , Jakarta nyaris berantakan. La bayangin aja, waktu pelajaran berlangsung dia malah asyik nulis lirik lagu di bangku belakang. Kelakuan serupa juga berlanjut saat Ivan kuliah di Sekolah Tinggi Transportasi (STMT) Trisakti, akibatnya ia Cuma mampu bertahan sampai semester V. Toh dia nggak menyesal di DO dari sana. "Kalo dipikir gue malah lebih berarti setelah nekad terjun ke dunia musik. Banyak banget yang gue dapat," alasannya enteng. Sebelum nyasar ke Slank, Ivan sempat gabung sama Abdee di grup Flash. Nggak lama kemudian pindah ke House of The Rising Sun band beraliran rock & roll itu sering banget main di Poltot. Sejak itulah, Ivan akrab dengan Bimbim dan kawan-kawan. Malah tahun 1993, ia diajak rekaman untuk album pertama Imanez Anak Pantai.
Tahun 1997, Ivan ditawarin bergabung dengan Slank. Hatinya sempat bimbang karena waktu itu lagi akrab sama Bongky. Untunglah mantan pemain bass itu justru memberinya dorongan. "Gue bersyukur, banyak banget yang gue dapat begitu bergabung dengan Slank," katanya mantap. Keseharian Ivan boleh dibilang dihabiskan dengan nongkrong di Potlot. Kalo nggak latihan, nemenin Slanker, ato nyobain nulis lirik lagu. "selain itu ya pacaran," katanya semabri tertawa. Sebagai pemusik baru, otaknya sarat oleh gagasan. Bareng Slank, misalnya, dia pingin munculin musik etnik. "Lagu akan kedengaran lebih enak didengar."
Dibanding dulu, Ivan sekarang cenderung peka sama lingkungan. Dia mulai sering ikut mikirin keadaan negeri yang makin nggak karuan, padahal dulunya cuek bebek. Kok sekarang berubah ? "Mungkin karena gue dekat dengan orang-orang yang kritis dan mau berpikir." Tak jarang Ivan berdiskusi dengan Slank, juga dengan teman-teman dirumahnya. Kalo baca koran, nonton TV bukan Cuma melahap informasi musik. Hasilnya antara lain bisa disimak lewat lagu ciptaanya pada album Matahati Reformasi, yaitu Naluri Binatang. Kayaknya Ivan emang berniat terjun total di musik. Dia siap mempertaruhkans segalanya. "Gue akan merasakan kepuasan kalo gue bisa menghibur penonton. Sangat asyik tu. Orang seneng karena terhibur, apalagi sampai histeris segala. Nggak bisa ditebus dengan uang berapapun, soalnya itu merupakan kenikmatan tersendiri," paparnya bangga.
Dia juga berhasil meyakinkan ortunya bahwa keterlibatannya dimusik nggak seburuk yang mereka sangka. "Dulu gue sempat dilarang main band, karena anak band itukan identic dengan obat-obatan dan minuman keras. Padahal nggak semuanya begitu. Nah tugas berat gue yaitu nunjukin ke mereka bahwa gue nggak seperti yang mereka kira." Kini Ivan boleh dibilang sukses, meski mengaku belum berani "mempengaruhi" adik lelakinya untuk ngikutin jejak dia. "Soalnya dia udah telat, anak seusia dia kan mustinya udah jago main band."

ABDEE : DIHARAPKAN JADI ANGGOTA DPR, MALAH JADI GITARIS

Dilarang main musik malah jadi pemusik, itulah Abdee Negara. Cowok kelahiran Donggala, 28 Juni 1968. Bokapnya, andi Cella Nurdin, mantan anggota DPR. Wajar kalo ia menginginkan Abdee, anak ketujuh dari delapan bersaudara, bisa ngikutin jejaknya. "Mungkin karena ortu gua melihat kakak gua yang juga main musik, sekolahnya gagal." Toh ia ngotot pengen pol-polan. Karena permintaannya untuk dibeliiin gitar nggak pernah dikabulkan, dia sempat berpikir diperlakukan diskriminatif oleh sang bokap. Beruntung hal itu nggak sampe menyurutkan niatnya untuk bermusik. Sejak SMP diam-diam Abdee sudah bergabung dengan teman-temannya yang berusia jauh lebih tua dan rata-rata sudah punya pengalaman.
Abdee pun tambah pede waktu diberi kesempatan nyanyi sekaligus main gitar di pesta ultah adiknya. Dengan dalih sumpek dikampung halaman, Abdee ngerengek untuk nerusin sekolah ke SMU 1 Palu. Padahal ia mengincar fasilitas ngeband disana yang tentu saja lebih komplit ketimbang Donggala. "Gue pingin ngerasain pegang gitar elektrik itu kayak apa." Katanya jujur. Disana, ia memang sempat bikin Interview Band bareng Hengky Supit � mantan vokalis Whizzkid. "Dulu sebenarnya gue ngebet pengen jadi vokalis, tapi kalo pas nyanyi suara gue kedengaran ancur. Ya udah milih gitar aja," dia tertawa geli.
Ketika itu sang nyokap yang sering ngasih duit kalo dia butuh buat beli senar gitar. Untung, sekolahnya nggak berantakan. Abdee bahkan pernah masuk ranking III dan lolos Sipenmaru (sekarang UMPTN). Keinginan main musik yg begitu kuat menyebabkan kuliahnya di Fakultas Ekonomi di Universitas tadukalo, Palu, Cuma dijalaninya sebulan. Tanpa gitar ditangan apalagi punya kenalan, Abdee ngabur ke Jakarta pada 1988. Sejak itu ortunya sadar niat Abdee nggak bisa dibendung dan mereka mulai mendukung.
Sayang, pertemanan Abdee dengan dunia musik telah mengantarnya ke dunia alcohol. Padahal jujur saja dia mengaku Cuma pingin meniru artis kondang. Abis dengan teler dia serasa sudah jadi pemusik beneran. Sampai suatu hari seorang teman menegurnya. "Ngapainmabuk ? Musisi top itu terkenal dulu baru mabuk, Lu terkenal aja belum udah mabuk-mabukan." Kalimat itu sangat membekas dihatinya. "Sekarang kalimat itu yang selalu saya omongkan ke murid-murid saya kalo mereka mabuk," kata instruktur gitar ini.
Sejak ikut Indra Lesmana Workshop,yg ditekuninya selama enam bulan, pergaulannya dengan musisi mulai luas. Adalah ote Abadi, gitaris kelompok Leo Kristi, yang pertama mengajaknya rekaman. "Gue punya gitar sendiri sejak jadi professional (dibayar) di musik. Sebelumnya pinjam sana-sini." Penggemar motorcross dan mincing ini sempat lepas gitar. Keterlibatannya sebagai stage manager dan music director pada rumah produksi milik penyanyi jazz Ermy Kulit, telah membuka matanya. "Ternyata musik itu bukan Cuma main gitar, tapi ada juga segi entertain dan bisnisnya," simpul suami Nita (26) dan bapak dari Andi Alanis (14 bulan). Dengan Ermy Kulit Cuma bertahan sebentar, ia segera menyambar kembali gitarnya. Dan menggelendanglah dari satu pub ke pub yang lain, bantuin banyak pemusik. Nah pergulatan itulah yang mengantarnya pada Slank. Sayang, sang bokap nggak sempat menyaksikan keberhasilannya.
"Sebelum meninggal, dia bilang pengen melihat gue manggung. Tapi keinginannya itu nggak kesampaian," Abdee menerawang masa lalu. Ia pernah salah menafsirkan Slank sebagai grup yang nggak mampu memainkan blues (kecuali Pay). "Ternyata personel Slank itu anak Blues semua." Katanya. Secara musical, Abdee Negara mungkin memberikan kontribusi yang besar terhadap Slank. Tapi kehadirannya diakui telah membuat Slank lebih seger, kalo nggak boleh ditulis

RIDHO : OBSESINYA BIKIN LAGU KERAS

Kalo Slank lagi manggung dan Kaka menyebut nama si ganteng, inilah dia : Mohamad ridho hafiedz, cowok kelahiran Palangkaraya 3 September 1973. Orangnya kalem, sedikit imut-imtut dan konon emang paling bikin gemes Slanker cewek alias Slanky. Sebelum bergabung dengan Slank pada September 1997, nggak banyak yang mengenal sosoknya, kecuali buat mereka yang pernah nyimak album last Few Minutes (LFM). Di inilah nugie dulu pernah bergabung. LFM sebenarnya punya potensi buat maju. Cuma system promosi yang asal-asalan membuat namanya tenggelam.
Si bontot dari tujuh bersaudara ini mewarisi darah seni dari kakeknya. Kelas 2 SMP mulai main jazz dengan spesifikasi instrumen bas. Merasa nggak enjoy, kelas 2 SMU banting setir ke gitar. Kali ini girilan musik jazz yang bikin jiwanya nggak puas. Ridho pun berpikir untuk memainkan musik rock. Pemusik rock kan rata-rata gagah, begitu pikirnya. Latihan keras pun dimulai. Hasilnya ? "Bokap ngamuk-ngamuk liat gue main gitar di kamar, padahal esoknya mau ujian. Gitar yang gue mainin mau dia banting," kata alumni SMUN 21 jakarta tahun 1991 itu.
Di Palangkaraya, fasilitas musik kurang banget. Mana mungkin menyalurkan bakat ? Ridho pun mulai terpengaruh sama cerita sukses pemusik daerah yang urban ke Jakarta. Selepas SMP hengkanglah dia kesana. Berbagai festival diikutinya. Gitar pun makin nggak bisa lepas dari kehidupannya. Coba, orang tua mana yang nggak kuatir ? Ada satu festival yang berlangsung di Jatinegara pada 1992. Bandnya berhasil masuk final. "Waktu itu gue bawain lagu-lagu Slank. Slank sendiri saat itu jadi bintang tamu," katanya mencoba mengingat masa lalu.
Lama kelamaan hati sang ortu luluh juga melihat kekerasan hati Ridho. Pada 1996 ia cabut ke Amerika. Selama setahun ia kuliah di Musician Institute � Guitar Institute of Technology. Pulang dari sana dia berhasil ngantongin sertifikat. Padahal nggak semua siswa mampu memperolehnya. Sepulang ke Jakarta, Ridho melihat kenyataan bahwa karir LFM makin nggak jelas. Lepas dari kurang tergarapnya system promosi, grup ini kurang memberinya kepuasan dalam bermusik. "Bukannya di LFM nggak ada kebebasan, tapi konsep musik grup itu emang nggak memberinya kesempatan buat geber-geberan. Dalam keadaan ngambang selepas dari LFM itulah ia bertemu dengan Bimbim. Obsesinya segera terpenuhi ketika menggarap album Matahati Reformasi yang sarat dengan kemarahan serta kritik-kritik yang menyodok khas Slank. Nggak risih ikut-ikutan ngomong reformasi ? "Justru karena sama Slank jadi nggak ada beban. Soalnya gue tahu dari dulu band ini sudah aktif omong soal reformasi. Kalo bukan dengan mereka, gue pasti nggak bakal mau ngomongin reformasi," Ridho memberi alas an.
Ada peristiwa unik menjelang gabungnya instruktur gitar ini ke Slank. Setiap mengajar, ia pantang ngidupin handphone. Alasannya mengganggu konsentrasi. Entah kenapa saat itu secara sadar handphone dia hidupin. "Nggak tau kenapa tuh, pokoknya HP sengaja gue pasang." Benar saja, pada saat itu Ridho ditelepon Lulu Ratna, manajer tur Slank, supaya dating ke jalan Potlot buat audisi. Akar blues yang kental memudahkan cowok ini beradaptasi dengan warna musik Slank. Pada awal bergabung, Ridho sadar betul perhatian orang tertuju sama dirinya dan Abdee sebagai gitar Pay, tapi kemudian bersikap masa bodoh. Kalo dipikirin terus, bisa-bisa stress . Mungkin kekhawatirannya itu cuma sekedar sindrom anak baru. Siapa tahu, perhatian itu bakal beralih pada dirinya. Itu soal waktu kok. Terbuktisekarang nggak satupun slanker yang protes dengan kehadirannya. Bahkan ya itu tadi mereka dibikin gemes sama gaya panggungnya.

KAKA : SEJAK KECIL SUDAH JADI ANAK TERBUANG

Akhadi Wira Satriaji alias Kaka adalah gambaran pas bocah yang nggak pernah merasakan kasih saying ortu. Usia 2 tahun ditinggal mati nyokap. Ia dengan ketiga sodarnya, santi, Koko dan Kiki segera terlempar dari lingkungan keluarga. Tiga nama terakhir ini dititipkan pada seorang kerabat di Surabaya (Rere, drummer Grass Rock), sedang Kaka pada keluarga Denny di bilangan Kebon Sirih. Seorang diri, bocah kelahiran Jakarta 10 Maret 1973 itu berusaha menemukan identitas. Nggak punya tempat mengadu, selalu kebingungan mencari jawaban buat hal-hal yang nggak dimengertinya. Termasuk waktu tergoda ngicipin narkotik saat kelas 6 SD. "Waktu itu nggak sempat bertanya gimana resikonya kalo ngegunain itu barang. Waktu teman-teman make, ya gue ikut-ikutan."
Ia menyesalkan tindakan sang bokap yang memisahkan dirinya dari ketiga kakaknya, hingga diantara mereka tidak terjalin kehangatan. "Gue nggak pernah akrab sama mereka, karena secara prinsip berbeda. Mungkin pengaruh lingkungan," kenangnya. Asal tau aja, Koko adalah gitaris Kidnap Katrina. Sedang Kiki termasuk personel slank angkatan pertama. Narkotik boleh merenggut masa kecilnya, tapi Kaka cilik tetap punya cita-cita keren : jadi binaragawan. Ketika SD dia juga ikut-ikutan keranjingan breakdance dan sama sekali nggak pernah berpikir jadi pemusik. Itu sebabnya, semasa tinggal di Kebon Sirih, dia suka merasa terganggu oleh kehadiran slank yang sering nebeng latihan disitu. "Kesalnya minta ampun. Abis, nggak bisa tidur siang."
Kuatir sekolahnya terganggu, Bunda menarik tu anak ke Potltot. Eh disana malah diajak ngeband sama Masto, adik Bimbim. Merasa nggak punya bakat, dia menolak tawaran itu dan mulai kabur-kaburan. Toh, dia nggak punya tempat pulang selain di Potlot. Akhirnya Kaka menyerah dan bersedia gabung sama Masto dalam grup Lovina. Belum sempat masuk studio rekaman, Masto terpaksa merelakan Kaka buat disumpalkan pada formasi Slank yang baru dititnggal pergi Well Willy. "Awalnya mas Bimbim minjem gue selama dua tahun. Tapi akhirnya kebablasan�" Lagian, minjem kok dua tahun ?
Slank membuatnya kerasan, karena persyaratan yang diajukan Bimbim nguntungin dirinya. Bimbim mengajukan syarat bahwa siapapun yang masuk slank musti berani milih : main musik atau sekolah. Kaka yang saat itu baru dikeuarin oleh gurunya gara-gara berantem terus di sekolah tentu saja seolah mendapat penampungan. "Padahal gue udah siap-siap mau ujian biologi, pake bawa-bawa tomat segala. Gue dipanggil guru, kirain mau langsung dites. Nggak taunya�." Ada satu kebiasaan Kaka yang sering bikin kesel orang. Anak itu hobi banget nyorat-nyoret dinding atau kertas kosong yang ditemukannya dimana saja. Kelak kebiasaannya ini disalurkannya di Slank. Masih ingat logo pertama slank ? Nah, idenya muncul dari dia. Wartawan atau slankers yang pernah ngobrol sama dia pati bakal ingat gimana tangan Kaka nggak pernah mau berhenti nyoretin apa saja yang bisa dicoret. Kertas kosong, surat kabar bahkan permukaan meja sekalipun.
Kalo lagi tur, giliran kamar hotel tempat rombongan Slank menginap yang jadi korban keisengannya. Terutama sprei. Bunda Iffet yang rupanya mencium bakat tersebut, bermaksud mengirimkannya ke Bali dengan harapan jadi pelukis. Si Kaka jelas ketakutan setengah mati. "Takut nggak bisa balik lagi, hehehe!" Pada saat itulah Bimbim tampil menggagalkan rencana Bunda, sambil menjamin bahwa ia sanggup ngurus sepupunya itu. Atas saran Bimibim pula, ia abis-abisan latihan vokal. Sayang, yang diterimanya justru ledekan dari kiri kanan. Dia dianggap nggak becus ngolah suaranya sendiri.
Tahun 1994 dia bertemu Irni Arianti Nasution (cewek kelahiran 1971), yang saat itu lagi ditaksir sama Dhani Manaf. Suatu hari Kaka dan Irni nonotn pertunjukan Dewa 19. Ari Lasso yang tahu ada vokalis Slank diantara penonton, segera mendaulat Kaka buat menyanyikan sebuah lagu dari Queen. Sepulang dari nonotn itulah kaka dan Irni resmi pacaran. Menikah pada 14 Mei 1996, pasangan itu kini dikaruniai Soleil Luna (2). Sekarang hidupnya boleh dibilang lengkap sudah. Popularitas, istri cantik dan tentu saja anak cucu. Kalo ada yang disesalinya, itulah hubungan yang tetap renggang dengan bokapnya.

BIMBIM : PALING JAGO NUNDUKIN CEWEK

Pendiam tapi keras adalah watak cowok kelahiran Jakarta 25 Desember 1966 ini. Drumer otodidak inilah arsitek dibalik sukses Slank. Tongkrongan Bimo Setiawan Sidharta tergolong khas. Gerakannya terkesan malas-malasan. Badan ceking (percaya atau tidak, banyak Slankers sekarang pada ngurusin badan, berusaha niru dia), kacamata cengdem nggak pernah lepas dari jidat. Kegemarannya sama warna-warni genjreng bukan hanya sebatas pakaian, tapi juga sampai ke handphone. Kakeknya seorang nasionalis sejati, yang selalu mencecoki Bimbim kecil dengan cerita-cerita penuh heroisme, termasuk kisah dalam pewayangan. Tapi waktu beranjak akil baliq, apa yang diceritakan sang kakek nggak pernah bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Merasa frustasi, ia segera menjadikan musik sebagai pelarian. Bimbim nggak punya hasrat lagi nerusin sekolah. Obsesinya Cuma satu, jadi seniman musik. Kehidupan yang liar dan bebas ikut membentuk kepribadiannya, termasuk akrab sama obat-obatan yang disentuhnya ketika menginjak bangku SMU Percik. Banyak yang beranggapan bahwa Bimbim adalah Slank itu sendiri. Sebab otaknya emang hampir nggak pernah berhenti mikirin perkembangan dan masa depan grup tersebut. Dia membayar mahal buat langkahnya menjadikan Jalan Poltot sebagai markas Slank sekaligus Pulau Biru. Bimbim nyaris kehilangan privacy. Seringkali, baru nongol dari kamarnya, kudu nanda tangan atau foto bareng Slankers. "Sekali dua kali asyik bisa nyenengin mereka. Lama kelamaan ya teller juga�"Dia pula yang paling puyeng waktu Pay, Bongky dan Indra ngadat. Sebab, tanggung jawabnya bukan melulu ngurusin musik dan menjaga kekompakan, tapi juga urusan dengan produsen. Terutama sejak Slank memisahkan diri dari proyek Q, bendera milik Budhi Soesatio.
Suatu ketika dia naksir tetangganya, tapi ortu si cewek menentang habis-habisan. Maklum, rocker gondrong ini dianggap pemusik dengan masa depan yang auk ah gelap. Kegusarannya dikatain macem-macem itulah yang mengilhami Memang, satu lagu keras dari album perdana Slank yang sampai sekarang masih kerap dibawakan. Ngilang dari hiruk-pikuknya Jalan Potlot merupakan kebiasaan Bimbim kalo merasa suntuk. Itu pula yang ia lakukan ketika Slank lagi dilanda kemelut. Seluruh penghuni Pulau Biru mencarinay kesana kemari. Tentu saja usaha mereka sia-sia, karena Bimbim ngumpet di sebuah hotel di Yogyakarta. Disana ia ngamuk sendirian, menghancurkan seisi kamar hotel. "Gue mengganti kerusakan lebih mahal dari biaya nginap selama dua minggu," kenangnya pahit.
Kepiawaian Bimbim selain nulis lagu adalah menaklukan cewek. Suatu ketika di Potlot muncul sejumalh slanker cewek asal manado. Seorang diantara mereka, meminjam istilah kaka, dikenal sebagai slanker misterius. Maklum pendiam banget. Joane Josephira, namanya. Diantara personel Slank,konon, Cuma Bimbimlah yang berhasil mendekati. Di slank berlaku hokum rimba, siapa paling kuat dialah yang berkuasa. Anekdot ini tentu Cuma berlaku buat urusan cewek. Nah, selian dikenal piawai nundukin cewek, Bimbim kan komandannya Slank. Lengkap sudah kekuatannya. Lihat aja gimana dia memburu Joane sampai ke Bali. Soalnya, si cewek itu bersekolah di PLBI. "Dalam setahun gue enam kali pergi ke Bali." Apa boleh buat, cewek blesteran Amerika-Manado itu akhirnya luluh juga (atau terpaksa karena kasian, nggak tau deh!). Jo resmi jadi istrinya setelah dinikahi di Sukabumi, 6 Juni 1993, sekitar dua bulan setelah perkawinan Irni-Kaka. "Memang dia yang ngomporin," kata Bimbim. Maksudnya mau nyalahin nih ?
Soal hokum rimba tadi, sekarang Bimbim pasti nggak bisa menepuk dada. Kecuali kalo mau dikemplang Jo. Apalagi Slank kedatangan tiga personel yang fresh from the oven, yaitu Ivan, Ridho dan Abdee Negara. Berani mencoba ?